Jangan Sampai Akun Instagram Anda Jadi Target Hacker! Segera Ubah 3 Pengaturan Ini Sebelum Terlambat

Illustrasi Hacker Mengintai Instagram

Instagram kini bukan lagi sekadar aplikasi berbagi foto dan video. Banyak orang menyimpan percakapan pribadi, data bisnis, informasi pembayaran, hingga akses ke berbagai akun penting melalui satu perangkat yang sama. Karena itu, ketika akun Instagram diretas, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan akun media sosial.

Ancaman pembajakan akun saat ini juga semakin serius. Hacker tidak lagi memakai cara lama yang mudah dikenali. Mereka kini menggunakan malware canggih bernama Password Stealer yang mampu mencuri data login pengguna secara diam-diam tanpa meninggalkan tanda mencurigakan.

Situasi ini menjadi perhatian besar setelah laporan terbaru dari perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkap tingginya angka serangan pencuri password di Indonesia. Sepanjang tahun lalu, ratusan ribu upaya serangan berhasil terdeteksi dan dicegah. Yang paling mengejutkan, hampir setengah password pengguna internet disebut dapat dibobol kurang dari satu menit jika masih memakai kombinasi lemah atau mudah ditebak.

Masalahnya, banyak pengguna merasa akun mereka aman hanya karena memakai password panjang atau pernah menggantinya beberapa bulan lalu. Padahal, hacker modern tidak selalu menebak password secara manual. Mereka justru memanfaatkan celah kecil yang sering diabaikan pengguna sehari-hari.

Salah satu target favorit pelaku kejahatan siber adalah Instagram. Platform ini dianggap sangat efektif karena hampir semua orang aktif membuka DM, klik tautan, dan menerima pesan dari berbagai akun setiap hari. Dari sinilah jebakan biasanya dimulai.

Karena itu, ada beberapa pengaturan penting di Instagram yang sebaiknya segera dimatikan untuk membantu memperkecil risiko akun dibajak.

1. Matikan Fitur Membuka Tautan di Browser Eksternal

Banyak kasus pembobolan akun bermula dari pesan sederhana di DM. Modusnya sering terlihat biasa dan tidak mencurigakan. Pelaku biasanya mengirim link disertai kalimat seperti “Ini benar akun kamu?” atau “Coba lihat video ini cepat.”

Ketika pengguna menekan tautan tersebut, Instagram bisa langsung membuka browser utama di ponsel seperti Chrome atau Safari jika fitur browser eksternal masih aktif. Di titik inilah bahaya mulai muncul. Pengguna dapat diarahkan ke situs palsu yang menyerupai halaman login resmi, atau malware otomatis masuk ke perangkat tanpa disadari.

Banyak korban baru sadar setelah akun mendadak logout sendiri, email berubah, atau muncul aktivitas asing di akun mereka.

Untuk mengurangi risiko tersebut, fitur membuka tautan di browser eksternal sebaiknya dimatikan sekarang juga.

Langkahnya cukup mudah:

  • Masuk ke Profil Instagram
  • Klik garis tiga di kanan atas
  • Pilih “Izin situs web”
  • Masuk ke “Tautan pesan”
  • Matikan opsi “Buka di browser eksternal”

Meski terlihat sederhana, pengaturan ini bisa menjadi lapisan perlindungan tambahan agar link mencurigakan tidak langsung terbuka bebas di browser utama perangkat.

2. Batasi Panggilan dari Orang Tak Dikenal

Tidak semua hacker bekerja lewat tautan palsu. Kini banyak pelaku memakai metode manipulasi psikologis atau social engineering untuk menipu korban secara langsung.

Salah satu teknik yang sedang marak adalah vishing atau voice phishing. Pelaku melakukan panggilan suara dan berpura-pura menjadi pihak resmi seperti customer service bank, kurir, atau bahkan tim keamanan Instagram.

Tujuan utamanya adalah membuat korban panik agar tanpa sadar memberikan kode OTP atau data penting lainnya.

Modus seperti ini cukup berbahaya karena pelaku biasanya berbicara dengan meyakinkan. Bahkan beberapa korban mengira mereka benar-benar sedang dibantu pihak resmi.

Karena itu, pengguna Instagram disarankan membatasi siapa saja yang bisa melakukan panggilan melalui aplikasi tersebut.

Caranya:

  • Buka Pengaturan Instagram
  • Masuk ke menu “Notifikasi”
  • Pilih “Telepon”
  • Atur menjadi “Dari profil yang saya ikuti”

Dengan pengaturan ini, akun asing atau tidak dikenal tidak bisa sembarangan menghubungi pengguna lewat panggilan suara.

3. Segera Matikan Sinkronisasi Kontak

Banyak orang tidak sadar bahwa daftar kontak di ponsel bisa menjadi sasaran berikutnya ketika akun Instagram diretas.

Fitur “Hubungkan Kontak” sebenarnya dibuat untuk membantu pengguna menemukan teman di Instagram. Namun di sisi lain, fitur ini juga membuat data nomor telepon dan email tersimpan di sistem aplikasi.

Jika hacker berhasil mengambil alih akun, mereka berpotensi memakai data kontak tersebut untuk menyebarkan penipuan lebih luas dengan menyamar sebagai pemilik akun asli.

Inilah alasan mengapa banyak korban penipuan digital menerima pesan mencurigakan dari akun teman sendiri. Hacker memanfaatkan rasa percaya antar kontak untuk memperbesar peluang korban berikutnya.

Agar lebih aman, fitur sinkronisasi kontak sebaiknya dimatikan.

Langkahnya:

  • Buka Pengaturan
  • Masuk ke “Pusat Akun”
  • Pilih “Informasi dan izin Anda”
  • Masuk ke “Unggah kontak”
  • Matikan “Hubungkan kontak”

Password Kuat dan 2FA Kini Wajib

Mematikan tiga pengaturan tadi memang membantu meningkatkan keamanan akun. Namun perlindungan digital tetap harus dilengkapi dengan kebiasaan yang lebih aman.

Pengguna sebaiknya menghindari password sederhana seperti tanggal lahir, nama sendiri, atau angka berurutan. Password yang sama juga jangan dipakai di banyak akun sekaligus karena jika satu akun bocor, akun lain ikut terancam.

Menggunakan password manager bisa membantu membuat dan menyimpan password yang lebih rumit tanpa perlu repot menghafal semuanya.

Selain itu, fitur Two-Factor Authentication atau 2FA wajib diaktifkan. Fitur ini menjadi benteng tambahan karena hacker tetap membutuhkan kode verifikasi khusus meski sudah mengetahui password akun.

Di era digital saat ini, serangan siber bisa datang kapan saja dan sering kali terjadi saat pengguna sedang lengah. Karena itu, menjaga keamanan akun media sosial tidak bisa dianggap sepele.

Melakukan beberapa pengaturan sederhana hari ini mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Namun langkah kecil tersebut bisa membantu mencegah kerugian besar di kemudian hari, mulai dari kehilangan akun, pencurian data pribadi, hingga penyalahgunaan identitas digital.