Tren kuliner viral kembali ramai di media sosial. Setelah berbagai dessert manis sempat bergantian populer, kini giliran ubi cream cheese yang mencuri perhatian. Camilan berbahan dasar ubi dengan lapisan cream cheese melimpah itu mendadak muncul di mana-mana, mulai dari TikTok, Instagram, hingga pusat perbelanjaan.
Tidak sedikit gerai dessert yang dipenuhi antrean hanya untuk membeli camilan satu ini. Banyak orang penasaran dengan perpaduan rasa manis alami ubi dan sensasi gurih creamy dari cream cheese yang disebut bikin ketagihan.
Menariknya, ubi cream cheese juga mulai dianggap sebagai dessert “lebih sehat” dibanding makanan manis lain. Alasannya karena menggunakan ubi sebagai bahan utama, bukan tepung atau roti olahan seperti kebanyakan dessert modern.
Namun di balik tren tersebut, dokter gizi mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung menganggap semua makanan berbahan dasar ubi otomatis aman untuk diet.
Ubi memang dikenal memiliki kandungan gizi yang baik. Dibanding nasi putih, ubi memiliki serat lebih tinggi sehingga dapat membantu tubuh merasa kenyang lebih lama. Selain itu, ubi termasuk karbohidrat kompleks yang penyerapannya lebih lambat di dalam tubuh.
Karena alasan itu, ubi sering dipilih sebagai alternatif sumber karbohidrat bagi orang yang sedang menjaga pola makan atau menurunkan berat badan.
Tetapi manfaat tersebut bisa berubah ketika ubi diolah menjadi dessert dengan tambahan topping tinggi gula dan lemak.
Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK menjelaskan bahwa banyak orang terkecoh karena melihat bahan utama yang digunakan adalah ubi. Padahal, kandungan kalori sebuah dessert tidak hanya berasal dari bahan dasarnya saja.
Tambahan cream cheese, susu kental manis, butter, hingga gula cair dapat membuat total lemak dan gula dalam satu porsi meningkat cukup tinggi.
Inilah yang membuat ubi cream cheese tetap perlu dikonsumsi dengan batas yang wajar meski tampilannya terlihat lebih “healthy” dibanding dessert lain.
Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK mengatakan porsi ubi yang masih dianggap aman untuk sekali makan berada di kisaran 100 hingga 150 gram. Jumlah tersebut sebenarnya setara dengan satu porsi nasi sebagai sumber karbohidrat utama.
Artinya, ubi cream cheese tidak bisa dianggap sekadar camilan ringan yang bebas dikonsumsi berkali-kali dalam sehari. Apalagi jika topping yang digunakan cukup banyak.
Menurutnya, penggunaan cream cheese sebaiknya juga tidak berlebihan karena kandungan lemak jenuhnya cukup tinggi. Dalam satu porsi, lapisan cream cheese tipis sekitar 20 sampai 30 gram masih tergolong aman.
Sayangnya, tren makanan viral saat ini justru sering menjadikan topping melimpah sebagai daya tarik utama. Semakin tebal cream cheese dan saus tambahan yang digunakan, semakin menarik tampilannya di media sosial.
Padahal, semakin banyak topping yang ditambahkan, semakin tinggi pula total kalori yang masuk ke tubuh.
Belum lagi tambahan susu kental manis atau gula cair yang banyak digunakan untuk memperkuat rasa manis. Kombinasi tersebut membuat dessert yang awalnya dianggap sehat berubah menjadi camilan tinggi gula dan lemak.
Fenomena ini dinilai cukup umum terjadi dalam tren makanan modern. Banyak makanan diberi label “lebih sehat” hanya karena menggunakan bahan alami atau real food, tetapi proses pengolahan dan topping yang digunakan justru membuat kandungan kalorinya melonjak.
Akibatnya, banyak orang merasa aman mengonsumsi dalam jumlah besar tanpa menyadari asupan energi harian mereka sebenarnya sudah berlebihan.
Dokter juga mengingatkan bahwa beberapa kelompok perlu lebih berhati-hati saat mengonsumsi ubi cream cheese. Pengidap diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit jantung termasuk yang disarankan membatasi konsumsi topping cream cheese maupun tambahan gula lainnya.
Pada penderita diabetes, kandungan gula tambahan dari susu kental manis dapat memicu kenaikan gula darah lebih cepat. Sementara lemak jenuh dari cream cheese berisiko memberi beban tambahan bagi penderita penyakit jantung dan hipertensi.
Karena itu, dessert viral ini sebaiknya tidak dijadikan menu rutin harian.
Menurut dokter, ubi cream cheese masih boleh dinikmati sesekali, misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali. Yang penting, konsumsinya tidak berubah menjadi kebiasaan setiap hari hanya karena sedang tren di media sosial.
Bagi orang yang sedang menjalani diet, ada beberapa cara sederhana agar tetap bisa menikmati ubi cream cheese tanpa khawatir berlebihan. Salah satunya dengan memilih porsi kecil dan mengurangi topping tambahan.
Menghindari saus manis berlebih juga bisa membantu menekan jumlah gula dan kalori dalam satu porsi. Selain itu, penting untuk tetap menyesuaikan konsumsi dessert dengan kebutuhan kalori harian masing-masing.
Di tengah maraknya tren makanan viral, masyarakat memang perlu lebih teliti membaca kandungan gizi di balik sebuah produk. Tampilan menarik dan bahan dasar alami belum tentu membuat sebuah makanan otomatis rendah kalori.
Pada akhirnya, pola makan sehat tetap bergantung pada keseimbangan, kontrol porsi, dan frekuensi konsumsi.
Ubi memang memiliki manfaat yang baik bagi tubuh. Namun ketika dipadukan dengan cream cheese tebal, susu manis, dan topping tinggi gula lainnya, camilan ini tetap perlu dinikmati secara bijak agar tidak berubah menjadi sumber kalori berlebih yang diam-diam mengganggu program diet.
