Keputusan tegas diambil oleh Uya Kuya terkait rumah pribadinya yang sempat menjadi sasaran amukan massa. Alih-alih menjual atau melepas properti tersebut, ia justru memastikan akan mempertahankannya apa pun yang terjadi.
Dalam pernyataannya, Uya menyebut rumah itu bukan sekadar bangunan biasa. Ada banyak kenangan yang melekat, mulai dari perjalanan karier hingga momen keluarga yang tak tergantikan.
Ia mengaku cukup terpukul dengan kejadian penjarahan tersebut. Namun, hal itu tidak serta-merta mengubah keputusannya terhadap rumah tersebut.
Menurutnya, nilai emosional jauh lebih penting dibandingkan nilai materi yang mungkin ditawarkan jika rumah itu dijual.
Banyak Kenangan yang Tak Tergantikan
Uya menjelaskan bahwa rumah tersebut menyimpan cerita panjang perjalanan hidupnya. Dari awal merintis karier hingga mencapai titik sekarang, semuanya terjadi di tempat itu.
Ia bahkan menyebut setiap sudut rumah memiliki cerita tersendiri. Hal ini yang membuatnya sulit, bahkan tidak terpikirkan untuk menjualnya.
“Kalau dihitung pakai uang mungkin bisa, tapi kenangan enggak bisa diganti,” ungkapnya dalam nada santai namun tegas.
Bagi Uya, rumah itu seperti saksi bisu perjalanan hidupnya bersama keluarga.
Dampak Penjarahan yang Masih Terasa
Peristiwa penjarahan yang terjadi sebelumnya memang meninggalkan dampak yang cukup besar. Tidak hanya kerugian materi, tetapi juga rasa tidak nyaman.
Beberapa bagian rumah mengalami kerusakan dan kehilangan barang berharga. Hal ini membuat keluarga harus melakukan pemulihan secara bertahap.
Meski begitu, Uya memilih untuk tidak larut dalam kejadian tersebut. Ia lebih fokus untuk memperbaiki keadaan dan melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Ia juga menegaskan bahwa kejadian itu tidak akan mengubah prinsipnya terhadap rumah tersebut.
Prioritas pada Keluarga dan Kenyamanan
Bagi Uya, hal terpenting saat ini adalah memastikan keluarganya tetap merasa aman dan nyaman. Ia menyadari bahwa kejadian tersebut bisa berdampak pada psikologis anggota keluarga.
Oleh karena itu, ia berusaha menciptakan suasana yang kembali normal di rumahnya.
Ia juga mengajak keluarga untuk melihat kejadian ini sebagai pelajaran, bukan sebagai trauma berkepanjangan.
“Yang penting kita tetap bareng dan saling jaga,” katanya.
Tidak Tergoda Tawaran Menggiurkan
Setelah kejadian tersebut, tidak sedikit pihak yang menanyakan kemungkinan rumah itu dijual. Bahkan, ada yang disebut memberikan tawaran cukup besar.
Namun, Uya dengan tegas menolak semua tawaran tersebut. Baginya, uang bukan segalanya.
Ia menilai keputusan menjual rumah hanya karena tekanan situasi bukanlah pilihan yang bijak.
Keputusan untuk mempertahankan rumah itu sudah bulat dan tidak akan berubah.











