Penurunan jumlah pengguna dalam skala besar terjadi pada layanan media sosial milik Meta pada awal tahun 2026. Dalam laporan keuangan kuartal I-2026, perusahaan ini mencatat kehilangan sekitar 20 juta pengguna aktif harian atau Daily Active Users (DAU).
Penurunan tersebut mencakup seluruh platform utama Meta, yaitu WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Meski tidak dirinci per aplikasi, angka ini menunjukkan perubahan signifikan dalam waktu yang relatif singkat, yakni hanya dalam periode Januari hingga Maret 2026.
Secara keseluruhan, Meta masih mencatat sekitar 3,5 miliar pengguna aktif harian. Namun jumlah ini turun sekitar 0,5 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 3,58 miliar pengguna. Dalam konteks global, penurunan kecil secara persentase tersebut setara dengan puluhan juta pengguna yang tidak lagi tercatat aktif setiap hari.
Gangguan akses internet jadi faktor utama
Berbeda dengan anggapan umum bahwa penurunan pengguna disebabkan oleh pergeseran tren atau kejenuhan platform, Meta menyatakan bahwa penyebab utama berasal dari faktor eksternal.
Kepala Keuangan Meta, Susan Li, menjelaskan bahwa gangguan akses internet di beberapa negara menjadi pemicu utama penurunan ini. Salah satu kasus terbesar terjadi di Iran.
Sejak awal tahun 2026, Iran beberapa kali memberlakukan pembatasan internet secara luas. Kebijakan ini berkaitan dengan situasi politik dalam negeri serta meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Tidak hanya pembatasan dari sisi kebijakan, gangguan juga terjadi akibat kerusakan infrastruktur jaringan. Serangan yang berdampak pada kabel serat optik menyebabkan akses internet di sejumlah wilayah tidak stabil, bahkan sempat terputus total selama beberapa minggu.
Dalam kondisi tersebut, pengguna tidak dapat mengakses layanan Meta. Hal ini menyebabkan mereka tidak tercatat sebagai pengguna aktif harian, meskipun secara teknis mereka tidak meninggalkan platform.
Rusia batasi WhatsApp dan dorong aplikasi lokal
Selain Iran, faktor lain datang dari kebijakan pemerintah Rusia yang mulai membatasi penggunaan WhatsApp sejak Februari 2026.
Pembatasan ini dilakukan bersamaan dengan upaya mendorong masyarakat beralih ke aplikasi dalam negeri bernama Max. Aplikasi ini dirancang sebagai super-app yang menggabungkan berbagai layanan digital dalam satu platform, mirip dengan WeChat.
Pemerintah Rusia tidak hanya mendorong penggunaan, tetapi juga menerapkan kebijakan wajib. Aplikasi Max harus terpasang di perangkat baru yang dijual di dalam negeri. Selain itu, penggunaannya diwajibkan bagi pegawai pemerintah, tenaga pengajar, dan pelajar.
WhatsApp sendiri telah mengonfirmasi adanya upaya pembatasan tersebut. Perusahaan menyatakan bahwa kebijakan ini berpotensi membatasi kebebasan komunikasi pengguna. Hingga kini, belum ada kepastian mengenai kemungkinan pemulihan akses secara penuh.
Dengan jumlah pengguna WhatsApp di Rusia yang diperkirakan lebih dari 100 juta orang, kebijakan ini memberikan dampak langsung terhadap jumlah pengguna global.
Dampak terhadap kinerja dan pasar
Penurunan jumlah pengguna ini turut memengaruhi respons pasar. Saham Meta tercatat turun sekitar 9 persen setelah laporan keuangan diumumkan pada awal Mei 2026.
Meski demikian, dari sisi keuangan, kinerja perusahaan masih menunjukkan pertumbuhan. Meta melaporkan pendapatan sebesar 56,3 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 977 triliun. Angka ini meningkat 33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih perusahaan juga mencapai 22,8 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 395 triliun. Kinerja ini menunjukkan bahwa pendapatan Meta masih kuat, terutama dari sektor iklan digital yang menjadi sumber utama pemasukan.
Ketergantungan pada faktor eksternal
Kasus ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi global sangat bergantung pada kondisi eksternal, terutama akses internet dan kebijakan pemerintah di berbagai negara.
Berbeda dengan faktor internal seperti inovasi produk atau strategi bisnis, kondisi eksternal sering kali sulit diprediksi dan berada di luar kendali perusahaan.
Ketika sebuah negara membatasi internet, jutaan pengguna dapat langsung hilang dari data aktivitas harian. Demikian pula ketika pemerintah mendorong penggunaan aplikasi lokal, platform global dapat kehilangan pangsa pasar dalam waktu singkat.
Belum mencerminkan perubahan tren global
Meski angka penurunan mencapai 20 juta pengguna, kondisi ini belum dapat dianggap sebagai perubahan tren global. Meta menegaskan bahwa sebagian besar penurunan disebabkan oleh gangguan akses, bukan karena pengguna secara aktif meninggalkan platform.
Jika kondisi di Iran dan Rusia berubah, ada kemungkinan sebagian pengguna akan kembali aktif. Namun jika pembatasan terus berlanjut atau meluas ke negara lain, dampaknya bisa lebih besar.
Situasi ini menjadi catatan penting bagi industri teknologi. Pertumbuhan pengguna tidak hanya ditentukan oleh kualitas layanan, tetapi juga oleh stabilitas akses dan kebijakan di tingkat nasional.
Dalam konteks global, laporan ini menunjukkan bahwa ekosistem digital tidak sepenuhnya bebas dari pengaruh politik dan keamanan. Bagi perusahaan seperti Meta, tantangan ke depan tidak hanya soal mempertahankan pengguna, tetapi juga menghadapi dinamika regulasi yang terus berkembang.
Penurunan 20 juta pengguna dalam satu kuartal menjadi sinyal bahwa perubahan besar dapat terjadi dalam waktu singkat. Dan dalam industri berbasis skala, angka tersebut memiliki dampak yang tidak bisa diabaikan.
