Lebaran yang Bercampur Rindu
Jakarta — Hari Raya Idulfitri biasanya identik dengan tawa, kumpul keluarga, dan tradisi yang menghangatkan. Namun bagi aktor dan sutradara Baim Wong, suasana Lebaran tahun ini terasa membawa nuansa yang berbeda. Di sela-sela kesibukan, Baim mengaku sering teringat pada almarhumah ibundanya sehingga momen haru tak jarang muncul ketika ia menunaikan salat.
Saat ditemui di kawasan Bintaro belum lama ini, Baim menceritakan bagaimana kenangan itu datang tiba-tiba, khususnya saat ia sedang khusyuk beribadah. “Kadang-kadang kalau lagi salat. Kadang-kadang kalau lagi salat ingat,” ujarnya sederhana, tetapi penuh emosi. Pengungkapan itu membuka sisi lain dari sosok publik yang selama ini dikenal tegas dan penuh energi.
Kisah Baim mengundang simpati karena menunjukkan bahwa kehilangan orangtua tidak mengenal status sosial. Di tengah pekerjaan dan sorotan, ada ruang sunyi yang hanya bisa diisi oleh memori dan doa. Bagi Baim, Lebaran kali ini semakin memperkuat pentingnya menghargai setiap momen bersama keluarga.
Ia juga menjelaskan bahwa bukan hanya momen besar yang memicu rindu, melainkan hal-hal sepele yang dulu rutin hadir dalam keseharian. Kebiasaan kecil yang dahulu tampak biasa, kini menjadi memori berharga yang sering dipikirkan saat suasana hati lembut seperti ketika salat.
Air Mata yang Terselip dalam Doa
Baim tak menutup kemungkinan air matanya menetes ketika sedang berdoa. Menurutnya, bukan berarti ia ingin menunjukkan kesedihan kepada publik, melainkan spontanitas rindu yang muncul ketika merasa paling dekat dengan Yang Maha Kuasa. “Kadang-kadang kan kita juga suka lupa untuk doain, suka lupa tilawah, kadang-kadang suka ingat suka nangis pas lagi salat doang,” ungkapnya.
Penuturan ini terasa jujur dan merakyat; banyak yang mengangguk karena pernah merasakan hal serupa. Air mata di sajadah menjadi wujud hubungan batin: penyesalan, kerinduan, sekaligus upaya menambal kekurangan spiritual yang mungkin terjadi selama setahun. Baim menilai momen-momen seperti itu penting sebagai pengingat agar tak lalai mendoakan orangtua, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada.
Ia pun mengaku berusaha mengimbangi kesibukan dengan waktu untuk tilawah dan doa, walau kadang terlewat. Kesadaran ini membuatnya kerap menata ulang prioritas, terutama ketika momen-momen keagamaan datang dan mengundang refleksi dalam hati.
Publik merespons dengan hangat; banyak penggemar yang mengirimkan kata-kata penghiburan dan berbagi pengalaman pribadi tentang kehilangan orangtua. Dukungan semacam itu membangun rasa kebersamaan di tengah kesedihan.
Rindu pada Perhatian Sederhana Sang Ibu
Selain momen salat, Baim menyebutkan kerinduan pada hal-hal sederhana yang dulu rutin dilakukan sang ibu. Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti “Buka puasa pakai apa?” atau “Sahur pakai apa?” ternyata menyimpan kehangatan yang luar biasa. “Sudah… ya pertanyaan dia yang simpel-simpel kita kangen,” katanya sambil menyingkap sisi lemah yang jarang tampak.
Kebiasaan semacam itu memberi nuansa personal yang kuat dalam memori Baim. Ia menilai bahwa perhatian orangtua, meski tampak remeh, justru menjadi sumber rasa aman dan kasih sayang yang tak tergantikan. Kini, setelah ibunda tiada, setiap rutinitas kecil itu menjadi bahan rindu yang kerap muncul di hari-hari besar seperti Lebaran.
Baim pun berupaya menjaga memori itu lewat tindakan: mendoakan almarhumah, menyisihkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, dan lebih memperhatikan anggota keluarga yang masih ada. Menurutnya, melakukan hal nyata jauh lebih bermakna ketimbang sekadar mengenang tanpa aksi.
Respons dari kerabat dan rekan-rekan sesama selebritas menunjukkan empati; banyak yang mengingatkan pentingnya menyalurkan rindu lewat amal baik untuk mendiang dan memperbanyak kegiatan positif sebagai bentuk penghormatan.
Menyulap Kesedihan jadi Energi Positif
Walau rindu kadang datang begitu kuat, Baim mencoba mengubah perasaan tersebut menjadi energi positif. Ia tak ingin terjebak dalam kesedihan yang melumpuhkan; sebaliknya, ia menyulap kenangan menjadi motivasi untuk lebih peduli pada keluarga dan menata ulang prioritas hidup. Kesadaran itu mendorongnya memberi perhatian lebih pada anak dan keluarga dekat.
Di sela-sela aktivitas profesionalnya, Baim berupaya menyediakan waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan memperbanyak rangkaian doa. Baginya, tindakan kecil seperti lebih sering menelpon saudara atau membantu urusan keluarga adalah bentuk nyata penghormatan pada nilai yang ditanamkan oleh sang ibu.
Dalam percakapan penutup, Baim mengucapkan terima kasih atas dukungan publik yang menyentuh hatinya. Ia berharap kisahnya bisa menjadi pengingat bagi banyak pihak untuk tak menunda berbuat baik kepada orangtua dan keluarga.
Kisah Baim menegaskan bahwa di balik gemerlap dunia hiburan, ada kehidupan batin yang penuh kerinduan dan pengorbanan. Lebaran kali ini menjadi pengingat bahwa cinta dan perhatian sederhana sering kali menjadi warisan paling berharga dari generasi ke generasi.
















