banner 728x250

Chrome Diam-Diam Pasang AI 4 GB, Kini Mulai Ubah Cara Bagikan Lokasi Pengguna

Illustrasi Google Chrome Bertingkah Lagi
banner 120x600
banner 468x60

Google Chrome sedang menghadapi salah satu gelombang kritik terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Browser yang dulu dikenal ringan dan praktis kini mulai dianggap berubah terlalu jauh. Bukan hanya karena dorongan AI yang semakin agresif, tetapi juga karena perubahan besar terkait privasi pengguna yang berjalan nyaris tanpa disadari banyak orang.

Kontroversi terbaru dimulai setelah muncul laporan bahwa Chrome diam-diam mengunduh model AI lokal berukuran sekitar 4 GB ke perangkat pengguna. File tersebut diketahui berkaitan dengan Gemini Nano, model kecerdasan buatan milik Google yang mulai ditanam langsung ke browser Chrome untuk menjalankan berbagai fitur AI modern.

banner 325x300

Banyak pengguna baru menyadari keberadaan file tersebut setelah ruang penyimpanan laptop atau PC mereka tiba-tiba berkurang drastis.

File AI itu ditemukan tersimpan di folder data Chrome dengan nama seperti weights.bin, dan dalam beberapa laporan, ukuran total file AI bahkan disebut bisa melebihi 10 GB karena beberapa versi model tersimpan bersamaan setelah update browser.

Yang membuat publik marah bukan hanya ukuran file tersebut.

Masalah utamanya adalah transparansi.

Banyak pengguna mengaku tidak pernah diberi pemberitahuan jelas bahwa Chrome akan mengunduh model AI sebesar itu langsung ke perangkat mereka.

Di Reddit, X, dan Threads, kritik langsung bermunculan. Sebagian pengguna menyebut langkah Google sebagai sesuatu yang “gila”, sementara yang lain mengatakan Chrome sekarang terasa lebih seperti sistem operasi AI dibanding browser internet biasa.

Beberapa komentar netizen yang ramai dibahas di komunitas teknologi antara lain:

“Masalahnya bukan AI. Masalahnya adalah Google memasang sesuatu ke perangkat tanpa izin yang jelas.”

“Chrome sekarang terasa seperti AI platform, bukan browser.”

“Kami baru sadar storage server kantor tiba-tiba habis setelah Chrome update.”

Sebagian pengguna bahkan mulai mengaku pindah ke browser lain seperti Firefox atau Brave karena merasa Chrome semakin berat, terlalu invasif, dan semakin sulit dipercaya.

Google Bicara Privasi, Tapi Netizen Melihat Ironi

Ironisnya, kontroversi AI ini muncul hampir bersamaan dengan pengumuman fitur baru Chrome terkait privasi lokasi pengguna.

Google baru saja memperkenalkan fitur “Approximate Location Sharing” di Chrome Android. Fitur ini memungkinkan situs web hanya menerima lokasi perkiraan pengguna, bukan titik GPS yang benar-benar presisi.

Menurut Google, tidak semua website membutuhkan lokasi detail pengguna. Untuk layanan seperti cuaca, berita lokal, atau rekomendasi area sekitar, lokasi perkiraan dianggap sudah cukup.

Sedangkan lokasi presisi hanya diperlukan untuk layanan tertentu seperti:

  • pemesanan makanan,
  • pencarian ATM terdekat,
  • navigasi,
  • atau layanan transportasi online.

Google menyebut fitur ini dibuat agar pengguna memiliki kontrol lebih besar terhadap data lokasi mereka.

Perusahaan juga mengatakan fitur tersebut akan diperluas ke desktop dalam beberapa bulan mendatang.

Namun banyak netizen justru melihat langkah ini sebagai sesuatu yang kontradiktif.

Di satu sisi Google berbicara soal perlindungan privasi lokasi.

Di sisi lain, Chrome justru dituduh diam-diam memasang AI besar langsung ke perangkat pengguna tanpa komunikasi yang jelas.

Sebagian pengguna menyebut perubahan ini sebagai contoh bagaimana perusahaan teknologi kini terlalu agresif mendorong AI ke semua produk mereka.

Chrome Dinilai Semakin Berat dan Terlalu Banyak Mengatur Pengguna

Kekhawatiran publik sebenarnya bukan hanya soal storage.

Banyak pengguna mulai mempertanyakan arah browser modern saat ini.

Browser yang dulu hanya dipakai membuka website kini mulai:

  • menjalankan model AI lokal,
  • memproses teks otomatis,
  • memberi bantuan menulis,
  • menganalisis halaman,
  • hingga mengelola data lokasi pengguna lebih dalam.

Dan semua itu berjalan lewat update otomatis.

Bagi sebagian pengguna, perubahan ini terasa berlebihan.

Komunitas privasi digital bahkan mulai memakai istilah “AI creep”, yaitu kondisi ketika fitur AI perlahan masuk ke perangkat pengguna tanpa benar-benar diminta.

Kekhawatiran lain datang dari penggunaan data lokasi.

Lokasi termasuk salah satu jenis data paling sensitif di internet modern. Data tersebut sering dipakai untuk:

  • iklan,
  • pelacakan perilaku,
  • analitik pengguna,
  • hingga penargetan komersial.

Karena itu, perubahan kecil terkait izin lokasi langsung memicu perhatian besar dari komunitas keamanan digital.

Meski fitur lokasi perkiraan dianggap langkah positif, banyak pihak menilai masalah utama tetap ada.

Pengguna masih harus berhati-hati ketika memberikan izin lokasi ke website atau aplikasi, baik lokasi presisi maupun lokasi perkiraan.

Google Membantah Tuduhan Spyware

Google sendiri membantah tuduhan bahwa Chrome melakukan spyware atau pengawasan tersembunyi.

Perusahaan mengatakan model AI lokal dibuat agar sebagian proses bisa berjalan langsung di perangkat pengguna tanpa harus mengirim data terus-menerus ke server cloud.

Secara teknis, metode ini memang bisa lebih privat dibanding pemrosesan online.

Namun kritik terbesar tetap muncul pada cara implementasinya.

Banyak pengguna merasa Google seharusnya memberikan pilihan opt-in yang jelas sebelum mengunduh file AI berukuran beberapa gigabyte ke perangkat mereka.

Bukan justru menyisipkannya lewat update browser biasa.

Cara Mematikan AI Chrome yang Sudah Terunduh

Karena kontroversi ini semakin ramai, banyak pengguna mulai mencari cara mematikan AI lokal Chrome.

Langkah yang paling banyak dibagikan komunitas teknologi antara lain:

  1. Buka Google Chrome.
  2. Masuk ke menu Settings.
  3. Cari pengaturan AI atau “On-device AI”.
  4. Matikan semua fitur AI lokal.
  5. Tutup Chrome sepenuhnya.

Setelah itu pengguna biasanya menghapus file:
weights.bin

File tersebut umumnya berada di folder:
OptGuideOnDeviceModel

Sebagian pengguna juga mematikan fitur eksperimental Chrome melalui:
chrome://flags

Beberapa fitur yang sering dimatikan antara lain:

  • Gemini Nano,
  • Optimization Guide,
  • AI Writing Tools,
  • On-device AI.

Namun banyak laporan menyebut file AI bisa muncul kembali setelah update Chrome berikutnya jika pengaturan tertentu masih aktif.

Publik Mulai Kehilangan Kepercayaan

Kontroversi ini memperlihatkan perubahan besar dalam cara publik memandang teknologi AI.

Masalahnya bukan sekadar soal fitur baru.

Yang mulai membuat banyak pengguna resah adalah rasa kehilangan kontrol atas perangkat mereka sendiri.

Browser yang dulu hanya dipakai membuka internet kini mulai:

  • mengunduh AI besar,
  • memproses data secara otomatis,
  • mengatur lokasi pengguna,
  • dan berjalan semakin kompleks tanpa banyak penjelasan.

Bagi sebagian netizen, Chrome saat ini bukan lagi browser sederhana yang dulu mereka kenal.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan