Dunia horologi kembali dibuat panas. Setelah sukses besar lewat MoonSwatch dan Scuba Fifty Fathoms, Swatch kini resmi mengguncang pasar dengan kolaborasi paling berani mereka sejauh ini bersama Audemars Piguet. Hasilnya adalah AP x Swatch “Royal Pop”, sebuah rilisan unik yang langsung menjadi pusat perhatian para kolektor, pecinta fashion, hingga komunitas streetwear global.
Kolaborasi ini dianggap sangat mengejutkan karena Audemars Piguet bukan nama sembarangan. Brand asal Swiss tersebut selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pembuat jam tangan mewah paling prestisius di dunia. Royal Oak milik AP bahkan sudah menjadi simbol status dan ikon desain horologi modern sejak era 1970-an.
Karena itu, ketika AP memutuskan bekerja sama dengan Swatch, banyak orang langsung penasaran seperti apa hasil akhirnya.
Namun yang muncul ternyata jauh di luar ekspektasi publik.
Alih-alih menghadirkan Royal Oak murah dalam bentuk jam tangan biasa, Swatch dan AP justru memilih jalur eksperimental dengan merilis jam saku modern bergaya wearable fashion. Produk bernama “Royal Pop” ini tampil nyentrik, penuh warna, sekaligus tetap membawa DNA khas Royal Oak yang ikonik.
Keputusan tersebut langsung memancing pro dan kontra.
Sebagian kolektor menyebut langkah ini sebagai inovasi segar yang berhasil membawa dunia luxury watch lebih dekat dengan generasi muda. Namun sebagian lain merasa desainnya terlalu liar untuk nama sebesar Audemars Piguet.
Meski begitu, satu hal sudah pasti: semua orang membicarakannya.
Desain Royal Oak Bertemu Kultur Pop Modern
Royal Pop tampil dengan bezel oktagonal khas Royal Oak lengkap dengan exposed screw yang langsung mengingatkan publik pada desain legendaris AP.
Bedanya, produk ini tidak dipakai di pergelangan tangan.
Swatch memilih konsep jam saku modern yang dipasang pada lanyard kulit premium. Hasilnya terlihat seperti perpaduan antara luxury watch, aksesori fashion, dan collectible art piece.
Pendekatan ini dianggap cukup cerdas.
Jika Swatch memaksakan membuat bracelet ala Royal Oak menggunakan material Bioceramic, hasil akhirnya bisa saja terlihat murahan dan justru merusak citra AP. Karena itu mereka memilih format baru yang terasa lebih unik dan eksperimental.
Banyak pengamat menilai Royal Pop memang tidak dirancang untuk menjadi “jam harian”, melainkan simbol hype culture dan statement fashion modern.
Delapan Warna Nyentrik Jadi Buruan Kolektor
Royal Pop hadir dalam delapan varian warna berbeda yang terinspirasi dari kultur pop-art. Angka delapan dipilih sebagai penghormatan terhadap bezel segi delapan Royal Oak yang selama ini menjadi identitas utama AP.
Koleksi ini dibagi menjadi dua gaya desain utama.
Versi pertama bernama Lépine dengan tampilan lebih minimalis. Crown ditempatkan di posisi angka 12 dan desain dial dibuat lebih clean tanpa subdial tambahan. Warnanya tampil berani mulai dari pink merah ceri, hijau terang, navy oranye, hingga hitam putih monokrom.
Sementara versi kedua bernama Savonnette tampil jauh lebih kompleks. Crown dipindahkan ke posisi angka 3 dan ditambah subdial detik kecil yang membuat tampilannya lebih “ramai”.
Dari seluruh lineup, varian Savonnette dengan kombinasi pink, kuning, dan turquoise disebut sebagai model paling panas di pasar.
Banyak kolektor memprediksi warna tersebut bakal menjadi “holy grail” dan paling sulit didapatkan.
Mesin Mekanikal Jadi Nilai Jual Utama
Di balik desain nyentriknya, Royal Pop ternyata membawa spesifikasi yang cukup serius.
Swatch tidak menggunakan mesin quartz biasa seperti yang banyak diperkirakan publik sebelumnya. Sebaliknya, mereka membekali Royal Pop dengan movement mekanikal Sistem51 hand-wound.
Langkah ini langsung membuat banyak penggemar horologi terkejut.
Pasalnya, penggunaan movement mekanikal manual winding membuat produk ini terasa jauh lebih premium dibanding kolaborasi Swatch sebelumnya.
Jam ini juga dibekali cadangan daya hingga sekitar 90 jam, angka yang tergolong impresif untuk kelas harganya.
Tidak hanya itu, Royal Pop juga menggunakan kristal safir di bagian depan dan belakang. Detail seperti exhibition caseback transparan hingga tekstur dial Petite Tapisserie ala Royal Oak membuat nuansa luxury watch tetap terasa kuat meski bodinya memakai material Bioceramic khas Swatch.
Namun ada satu kekurangan yang cukup disorot.
Ketahanan airnya hanya berada di level 2 bar atau sekitar 20 meter. Artinya, produk ini jelas bukan jam untuk aktivitas outdoor berat atau penggunaan ekstrem.
Harga Retail Masih Relatif “Masuk Akal”
Salah satu alasan mengapa Royal Pop langsung menjadi rebutan adalah faktor harga.
Untuk ukuran produk kolaborasi bersama Audemars Piguet, harga retail resminya dianggap cukup murah.
Versi Lépine dijual di kisaran USD 400 atau sekitar Rp6,5 juta. Sedangkan versi Savonnette berada di angka USD 420 atau sekitar Rp6,8 juta tergantung kurs dolar saat peluncuran.
Angka tersebut jelas jauh di bawah harga Royal Oak original yang bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Karena itulah banyak orang melihat Royal Pop sebagai “tiket termurah” untuk merasakan aura Audemars Piguet.
Harga Resale Diprediksi Langsung Naik Gila-Gilaan
Meski harga retail terlihat terjangkau, situasi di lapangan dipastikan bakal jauh berbeda.
Antrean panjang mulai terlihat di berbagai toko Swatch dunia bahkan sebelum hari peluncuran resmi dimulai. Fenomena ini mengingatkan publik pada kegilaan MoonSwatch beberapa tahun lalu yang sempat membuat reseller meraup keuntungan besar.
Komunitas kolektor di Asia Tenggara juga mulai bergerak cepat membuka jalur jastip dari Singapura, Malaysia, hingga Jepang.
Di Indonesia sendiri, harga pasar sekundernya diprediksi langsung melonjak tajam.
Untuk model reguler, harga resale diperkirakan bisa menyentuh Rp12 juta hingga Rp18 juta hanya dalam beberapa hari pertama peluncuran.
Sementara varian warna paling langka diprediksi dapat menembus Rp25 juta bahkan lebih jika stok global ternyata sangat terbatas.
Kondisi ini membuat banyak kolektor mulai berburu informasi soal distribusi dan kemungkinan restock.
Simbol Baru Dunia Horologi Modern
AP x Swatch Royal Pop bukan sekadar rilisan jam tangan biasa. Produk ini menjadi simbol bagaimana dunia horologi kini semakin dekat dengan kultur hype, fashion, dan collectible modern.
Bagi sebagian orang, Royal Pop mungkin terlihat terlalu nyentrik. Namun bagi komunitas kolektor dan pecinta desain unik, produk ini justru menjadi salah satu rilisan paling menarik tahun 2026.
Dan melihat besarnya antusiasme pasar saat ini, Royal Pop tampaknya baru saja memulai kegilaannya.













