banner 728x250

Musk Serang Pribadi, Trump Balas Dendam! Drama Terbaru Dua Raksasa yang Bikin Geger!

Elon Musk dan Trump Memanas serta saling menyindir
banner 120x600
banner 468x60

Washington D.C. – Panggung politik dan teknologi Amerika Serikat kembali bergejolak dengan drama panas yang melibatkan dua nama besar: Elon Musk dan Presiden Donald Trump. Hubungan yang sebelumnya terlihat akur, bahkan cenderung strategis, kini meledak menjadi perseteruan sengit yang penuh tuduhan dan serangan personal. Ini bukan sekadar adu argumen, melainkan perang terbuka yang membuat publik geger.


Dari Dukungan di Gedung Putih Menuju Ledakan di Media Sosial

Kisah ini dimulai dari peran Elon Musk sebagai pegawai khusus di Department of Government Efficiency (DOGE), sebuah posisi yang menunjukkan kedekatan dan dukungan Musk terhadap pemerintahan Trump. Musk secara resmi mengakhiri jabatannya pada 6 Juni 2025. Namun, “bulan madu” itu ternyata sangat singkat.

banner 325x300

Hanya beberapa hari setelah tak lagi bertugas di DOGE, Musk melancarkan kritik tajam terhadap RUU yang dijuluki Trump sebagai “One Big Beautiful.” Menurut Musk, kebijakan ini justru akan memperparah defisit anggaran AS, sebuah klaim yang langsung memicu reaksi keras dari Gedung Putih.

Trump tak tinggal diam. Ia segera menyerang balik, menuduh Musk menentang RUU itu karena adanya ketentuan yang mencabut insentif bagi pembeli kendaraan listrik. Trump juga menepis klaim bahwa ia akan kalah dalam pemilihan presiden tahun lalu tanpa “ratusan juta dolar” dukungan finansial dari Musk – sebuah pernyataan yang memanaskan suasana.


Perang Kata di X: Tuduhan Balik dan Serangan Personal

Medan pertempuran utama beralih ke platform X (sebelumnya Twitter), tempat keduanya memang sering melontarkan pernyataan kontroversial. Musk merespons Trump dengan singkat namun menusuk: “Terserah.” Ia menegaskan bahwa fokusnya bukan pada subsidi mobil listrik, melainkan pada mengurangi utang nasional, yang dianggapnya sebagai “ancaman eksistensial.” Musk bahkan melangkah lebih jauh, mengklaim bahwa Partai Demokrat akan memenangkan pemilihan tahun lalu jika ia tidak turun tangan membantu Trump.

Trump, dengan gayanya yang khas, tak membiarkan Musk mendominasi narasi. “Saya sangat kecewa dengan Elon. Saya telah banyak membantu Elon, dia tahu setiap aspek dari RUU ini. Dia mengetahuinya lebih baik daripada hampir semua orang, dan dia tidak pernah punya masalah sampai setelah dia pergi,” cetus Trump. Nada personal pun muncul: “Lihat, Elon dan saya punya hubungan yang hebat. Saya tidak tahu apakah kami akan seperti itu lagi.”

Musk pun tak kalah cepat. Ia membantah klaim Trump di X, menyatakan bahwa komentar presiden itu salah dan RUU tersebut tidak pernah sekalipun ditunjukkan kepadanya.

Puncaknya, Musk beralih dari kritik kebijakan menjadi serangan pribadi yang menggemparkan. Hanya beberapa hari setelah memuji Trump saat tampil di Ruang Oval usai tugasnya di DOGE, Musk berbalik 180 derajat.

“Tanpa saya, Trump akan kalah dalam pemilihan, Demokrat akan menguasai DPR dan Republik akan berada di posisi 51-49 di Senat. Sungguh tidak tahu terima kasih,” tulis Musk, membalas video pernyataan Trump.

Yang paling membuat heboh, Musk tanpa bukti melancarkan tuduhan sangat serius: ia menyatakan bahwa Trump terlibat dalam berkas-berkas yang belum dirilis terkait mendiang pelaku kejahatan seks Jeffrey Epstein.

“Saatnya menjatuhkan bom yang sangat besar. (Trump) ada dalam berkas Epstein. Itulah alasan sebenarnya berkas-berkas itu tidak dipublikasikan,” kata Musk. “Tandai postingan ini untuk masa mendatang. Kebenaran akan terungkap,” imbuhnya. Tak berhenti di situ, Musk bahkan secara terbuka mendukung Trump untuk di-impeach dan digantikan oleh wakilnya, JD Vance.

Di sisi lain, Trump membalas di Truth Social, platform miliknya sendiri. Ia mengklaim bahwa dirinya-lah yang sebenarnya memecat Musk dari jabatannya sebagai penasihat khusus. “Kebohongan yang sangat kentara. Sangat menyedihkan,” tulis Musk menanggapi klaim Trump ini.

banner 325x300