banner 728x250

Lagi Capek Kerja dan Bad Mood? Di China Ada Perusahaan yang Justru Menyuruh Karyawannya Libur 10 Hari

Illustrasi Cuti
banner 120x600
banner 468x60

Bayangkan situasi ini. Bangun pagi dengan kepala penuh, emosi tidak stabil, dan motivasi kerja nyaris habis. Di Indonesia, kondisi seperti itu sering dianggap urusan pribadi. Tetap masuk kerja, tetap profesional, dan menyimpan semua rasa lelah di balik meja kantor. Namun di China, sebuah perusahaan ritel justru mengambil sikap yang berlawanan. Saat karyawan merasa tidak bahagia, perusahaan ini menyuruh mereka pulang dan beristirahat.

Perusahaan tersebut adalah Pang Dong Lai. Di tengah budaya kerja China yang dikenal keras dan menuntut, Pang Dong Lai menerapkan kebijakan yang terdengar hampir tidak masuk akal bagi banyak pekerja Asia. Perusahaan ini memberikan cuti khusus hingga 10 hari bagi karyawan yang sedang tidak mood atau merasa tidak sehat secara mental.

banner 325x300

Kebijakan ini bukan wacana motivasi atau program sementara. Aturan tersebut diperkenalkan secara resmi sejak Maret 2024 oleh pendiri sekaligus chairman Pang Dong Lai, Yu Donglai. Ia secara terbuka menyatakan bahwa setiap manusia memiliki fase tidak bahagia, dan perusahaan tidak berhak memaksa seseorang bekerja ketika kondisi mentalnya sedang buruk.

Cuti tidak bahagia ini berdiri terpisah dari cuti tahunan. Artinya, jatah libur karyawan tidak berkurang. Mereka bebas mengajukan cuti kapan saja saat merasa mentalnya tidak baik. Tidak perlu surat dokter, tidak perlu alasan panjang. Yang lebih mengejutkan, manajemen perusahaan dilarang menolak pengajuan cuti tersebut. Jika ada atasan yang menolak permohonan karyawan karena alasan mood, tindakan itu dianggap sebagai pelanggaran internal.

Di China, kebijakan ini langsung memicu perbincangan luas. Banyak warganet menyebut Pang Dong Lai sebagai anomali di dunia kerja. Selama ini, China identik dengan jam kerja panjang dan budaya lembur. Dalam konteks tersebut, memberi cuti karena alasan emosional dianggap sebagai sesuatu yang hampir mustahil, apalagi diterapkan oleh perusahaan besar dengan ribuan karyawan.

Namun, Yu Donglai memiliki pandangan yang berbeda. Ia menilai budaya kerja lembur sebagai praktik yang tidak etis. Menurutnya, jam kerja panjang tidak otomatis mencerminkan produktivitas. Sebaliknya, hal itu justru merampas waktu individu untuk belajar, beristirahat, dan membangun kehidupan di luar pekerjaan. Ia meyakini bahwa perusahaan seharusnya memberi ruang bagi karyawan untuk hidup sehat secara fisik dan mental.

Cuti tidak bahagia hanyalah satu bagian dari sistem kerja yang diterapkan Pang Dong Lai. Perusahaan ini juga membatasi jam kerja harian menjadi tujuh jam. Akhir pekan ditetapkan sebagai hari libur, tanpa pengecualian rutin. Selain itu, karyawan berhak atas cuti tahunan sekitar 30 hingga 40 hari, di luar tambahan cuti lima hari saat Tahun Baru Imlek. Jika dibandingkan dengan standar industri ritel, angka ini tergolong sangat tinggi.

Dari sisi kesejahteraan, Pang Dong Lai juga memberikan kompensasi yang relatif baik. Hingga 2024, perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 7.000 karyawan. Rata-rata pendapatan bulanan mereka berada di atas 9.000 yuan, atau sekitar Rp 21 juta. Angka tersebut menunjukkan bahwa pendekatan humanis ini tidak dibangun dengan mengorbankan penghasilan pekerja.

Yang menarik, kebijakan longgar ini tidak membuat bisnis Pang Dong Lai melemah. Justru sebaliknya. Berdasarkan data firma riset pasar Daxue Consulting, Pang Dong Lai mencatat total penjualan sebesar 17 miliar yuan sepanjang 2024, setara sekitar Rp 41 triliun. Perusahaan juga membukukan laba lebih dari 800 juta yuan, atau sekitar Rp 1,9 triliun. Angka ini menjadi bukti bahwa perhatian pada kesehatan mental karyawan tidak selalu bertentangan dengan pertumbuhan bisnis.

Kesuksesan Pang Dong Lai juga ditopang oleh pendekatan unik terhadap pelanggan. Setiap toko dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal. Di pintu masuk, tersedia troli belanja standar, troli khusus lansia yang dilengkapi tempat duduk dan sandaran tangan, serta stroller bagi keluarga yang berbelanja sambil membawa bayi. Bahkan, supermarket ini menyediakan lemari khusus untuk hewan peliharaan lengkap dengan tempat minum dan pendingin.

Pendekatan tersebut menunjukkan satu benang merah. Bagi Pang Dong Lai, karyawan yang bahagia lebih mungkin memberikan pelayanan yang baik. Kenyamanan pelanggan tidak bisa dipisahkan dari kondisi mental orang yang melayani mereka. Dalam logika ini, kesehatan mental bukan sekadar isu personal, melainkan bagian dari strategi bisnis.

Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini terasa dekat sekaligus kontras. Di tengah meningkatnya pembahasan soal burnout dan keseimbangan hidup, kebijakan seperti cuti tidak bahagia masih jarang dibicarakan secara serius. Banyak pekerja masih merasa bersalah ketika mengambil cuti, apalagi jika alasannya berkaitan dengan kondisi mental.

Pengalaman Pang Dong Lai menunjukkan bahwa ada alternatif lain dalam mengelola tenaga kerja. Model ini tentu tidak bisa disalin mentah-mentah ke semua perusahaan. Setiap negara memiliki budaya dan tantangan sendiri. Namun satu hal menjadi jelas. Mengakui bahwa karyawan bisa lelah secara mental, dan memberi ruang untuk pulih, bukan tanda perusahaan menjadi lemah. Dalam kasus Pang Dong Lai, langkah tersebut justru menjadi fondasi bisnis yang kuat dan berkelanjutan.

banner 325x300