Enam Negara Ini Menolak Worldcoin: Apa yang Mereka Tahu dan Kita Harus Pelajari?

Apa itu World Coin / World ID

Penulis: PixelScribe | 6 Mei 2025

Worldcoin mungkin terlihat seperti proyek masa depan—identitas digital, uang kripto, dan keamanan berbasis biometrik. Tapi tidak semua negara melihatnya sebagai kemajuan. Faktanya, setidaknya 6 negara telah mengambil langkah serius terhadap Worldcoin, termasuk melarang, menyita alat, hingga membuka investigasi formal.

Kenapa mereka begitu waspada? Mari kita bedah satu per satu.


1. 🇰🇪 Kenya: Hentikan Operasi & Sita Alat Pemindai (Orb)

Tindakan:

  • Pemerintah Kenya menghentikan semua aktivitas Worldcoin pada Agustus 2023.
  • Kepolisian menyita Orbs (alat pemindai iris) dari lokasi operasional Worldcoin.
  • Investigasi resmi dilakukan oleh otoritas keamanan dan data.

Alasan:

  • Kekhawatiran eksploitasi masyarakat miskin yang menukar data iris mereka demi imbalan uang.
  • Minimnya transparansi soal penggunaan dan penyimpanan data biometrik.
  • Tidak adanya izin formal untuk pengumpulan data sensitif.

2. 🇫🇷 Prancis: Investigasi Perlindungan Data oleh CNIL

Tindakan:

  • CNIL (Komisi Nasional Perlindungan Data Pribadi) membuka investigasi terhadap Worldcoin.
  • Menggandeng otoritas Jerman (karena data Worldcoin diklaim diproses di Jerman).

Alasan:

  • Kekhawatiran atas legalitas pengumpulan data biometrik di bawah hukum privasi Eropa (GDPR).
  • Belum jelas landasan hukum pengumpulan data, durasi penyimpanan, dan hak pengguna atas data tersebut.

3. 🇩🇪 Jerman: Pengawasan Ketat dari Regulator Utama GDPR

Tindakan:

  • Bavarian State Authority for Data Protection Supervision (BayLDA) memimpin investigasi atas operasi Worldcoin di Eropa.
  • Karena server Worldcoin berada di Jerman, maka Jerman jadi regulator utama di bawah GDPR.

Alasan:

  • Data biometrik adalah kategori data sangat sensitif di GDPR.
  • Kekhawatiran soal persetujuan pengguna yang tidak benar-benar bebas—terutama saat pengguna diberi imbalan uang/token.

4. 🇦🇷 Argentina: Audit Langsung ke Tools for Humanity

Tindakan:

  • AAIP (Badan Akses Informasi Publik) Argentina melakukan audit mendalam ke kantor lokal Worldcoin.
  • Pemeriksaan langsung terhadap Tools for Humanity, pengembang teknologi Worldcoin.

Alasan:

  • Kekhawatiran soal pelanggaran terhadap UU Perlindungan Data Argentina.
  • Potensi penipuan informasi dan eksploitasi dalam proses pengumpulan data biometrik.
  • Transparansi soal penyimpanan dan pemrosesan data dipertanyakan.

5. 🇵🇭 Filipina: Investigasi & Penangguhan Kegiatan

Tindakan:

  • Komisi Privasi Nasional Filipina (NPC) meluncurkan investigasi dan memerintahkan penangguhan pengumpulan data oleh Worldcoin.
  • Menyasar kegiatan di pusat-pusat perbelanjaan besar tempat Worldcoin aktif.

Alasan:

  • Dugaan bahwa Worldcoin tidak menginformasikan secara memadai soal risiko pengumpulan data biometrik.
  • Penekanan pada hak individu untuk mengetahui dan mengontrol penggunaan data pribadi.

6. 🇮🇩 Indonesia: Pemblokiran Penuh oleh Kominfo

Tindakan:

  • Pemblokiran situs web dan aplikasi Worldcoin (termasuk World App dan worldcoin.org).
  • Rekomendasi dari BSSN dan langkah hukum untuk perlindungan data warga.

Alasan:

  • Tidak terdaftar sebagai PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) di Indonesia.
  • Mengumpulkan data biometrik secara ilegal.
  • Melanggar prinsip-prinsip dalam UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
  • Risiko kebocoran data dan ketidakjelasan nasib data iris jika pengguna ingin menghapus.

🚨 Benang Merahnya: Data Biometrik Bukan Mainan

Enam negara ini berbeda-beda secara geografi, hukum, dan tingkat perkembangan teknologi. Tapi mereka semua sepakat soal satu hal:

Data biometrik adalah identitas paling pribadi, dan tidak boleh dikumpulkan sembarangan.

Worldcoin menjual mimpi identitas global dan inklusi keuangan, tapi belum berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan paling mendasar:

  • Data iris disimpan di mana?
  • Siapa yang punya akses?
  • Bisakah data dihapus kapan saja?
  • Apakah masyarakat paham risiko sebenarnya?

💡 Penutup: Jangan Tertipu Gemerlap Teknologi

Kalau enam negara ini saja sudah bergerak cepat untuk melindungi warga mereka, maka kita—pengguna teknologi—juga harus lebih melek risiko.
Ingat:

  • Data kamu lebih berharga dari sekadar token kripto.
  • Sekali biometrik kamu bocor, gak ada tombol “reset”.
  • Jangan kasih “kunci tubuhmu” ke perusahaan yang belum kamu kenal betul.

Identitas digital itu masa depan, tapi harus dibangun di atas etika dan perlindungan privasi, bukan iming-iming instan.