banner 728x250

BPOM Temukan Takjil Mengandung Zat Berbahaya, Ini Panduan Aman dan Sehat Saat Berburu Menu Berbuka

Illustrasi Takjil
banner 120x600
banner 468x60

Bulan Ramadan identik dengan tradisi berburu takjil. Setiap sore, pasar musiman dipadati warga yang mencari menu berbuka. Namun di balik suasana tersebut, ada risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.

Badan Pengawas Obat dan Makanan atau Badan Pengawas Obat dan Makanan menemukan indikasi takjil mengandung bahan berbahaya dalam uji kelayakan di pasar takjil musiman Kota Kediri, Jawa Timur. Dari 56 sampel makanan dan minuman yang diperiksa dengan laboratorium keliling, petugas menemukan kerupuk yang terindikasi mengandung Rhodamin B.

banner 325x300

Rhodamin B adalah pewarna sintetis untuk industri tekstil. Zat ini dilarang digunakan pada pangan karena bersifat toksik dan karsinogenik. Konsumsi dalam jangka panjang dapat memicu kerusakan hati, gangguan ginjal, serta meningkatkan risiko kanker. Paparan juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan saluran pernapasan.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengimbau pedagang agar hanya menggunakan bahan tambahan pangan yang diizinkan. Ia juga meminta masyarakat lebih cermat sebelum membeli makanan berbuka.

Kenali Ciri Takjil Berisiko

BPOM mengingatkan konsumen untuk waspada terhadap makanan yang diduga mengandung formalin, boraks, atau pewarna tekstil seperti Rhodamin B dan Methanil Yellow.

Beberapa ciri yang dapat dikenali antara lain warna terlalu mencolok, terutama merah atau kuning terang yang tidak alami. Warna yang sangat tajam dan tidak merata patut dicurigai.

Tekstur makanan juga menjadi indikator. Mi basah atau tahu yang terasa sangat kenyal dan tidak mudah hancur bisa saja mengandung boraks. Sebaliknya, makanan yang tidak lengket secara tidak biasa juga perlu diperhatikan.

Ciri lain adalah makanan tidak basi meski disimpan satu hingga dua hari pada suhu ruang. Produk segar umumnya memiliki daya tahan terbatas. Jika tetap terlihat baik tanpa perubahan bau, konsumen perlu berhati hati.

Produk seperti mi, tahu, bakso, gorengan, kerupuk, serta minuman berwarna mencolok termasuk yang sering diawasi.

Ancaman Gula Berlebih Saat Berbuka

Selain bahan kimia berbahaya, masalah lain yang sering muncul adalah konsumsi gula yang tinggi. Banyak takjil mengandung gula sederhana dalam jumlah besar.

Contoh menu dengan kadar gula tinggi antara lain es sirup dengan tambahan gula cair, kolak pisang dengan santan dan gula merah pekat, cendol dengan kuah gula kental, martabak manis dengan susu kental manis, donat berlapis gula, serta minuman kemasan manis siap minum.

Kurma yang dilapisi sirup glukosa juga perlu diperhatikan. Tambahan sirup dapat meningkatkan kadar gula secara signifikan dibandingkan kurma alami.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization menyarankan agar asupan gula tambahan dibatasi maksimal 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Pembatasan hingga 5 persen bahkan dinilai lebih baik untuk mencegah obesitas dan diabetes tipe 2.

Lonjakan gula darah yang terlalu cepat saat berbuka dapat menyebabkan tubuh terasa lemas setelahnya. Dalam jangka panjang, pola konsumsi gula berlebih meningkatkan risiko penyakit metabolik dan gangguan jantung.

Tips Aman dan Sehat Berburu Takjil

Berburu takjil tetap bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Namun, ada beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan agar tetap aman.

Pertama, pilih pedagang yang menjaga kebersihan. Pastikan makanan disimpan dalam wadah tertutup dan tidak terpapar debu atau asap kendaraan.

Kedua, perhatikan warna, aroma, dan tekstur. Hindari makanan dengan warna terlalu terang atau bau yang tidak wajar.

Ketiga, batasi minuman manis. Mulailah berbuka dengan air putih untuk mengembalikan cairan tubuh. Jika membeli kolak atau es, minta gula dikurangi.

Keempat, utamakan pilihan alami. Buah potong segar, kurma tanpa tambahan sirup, kacang rebus, atau ubi kukus dapat menjadi alternatif lebih sehat.

Kelima, beli secukupnya. Hindari membeli berlebihan yang berisiko tidak habis dan disimpan terlalu lama.

Keenam, perhatikan label jika membeli produk kemasan. Pastikan ada izin edar dan tanggal kedaluwarsa yang jelas.

Pola Berbuka yang Lebih Bijak

Ahli gizi menyarankan agar berbuka dilakukan secara bertahap. Awali dengan air putih dan satu atau dua butir kurma. Setelah itu, beri jeda sebelum menyantap makanan utama.

Menu utama sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks seperti nasi atau kentang, sumber protein seperti ayam atau ikan, serta sayur dan buah. Kombinasi ini membantu menjaga kestabilan energi dan mengurangi keinginan mengonsumsi makanan manis berlebihan.

Hindari langsung mengonsumsi gorengan dalam jumlah besar. Lemak jenuh yang tinggi dapat memicu gangguan pencernaan dan meningkatkan kadar kolesterol.

Masyarakat juga disarankan tidak langsung tidur setelah makan besar. Aktivitas ringan seperti berjalan santai dapat membantu proses pencernaan.

Keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Pedagang wajib mematuhi aturan. Konsumen perlu lebih teliti. Dengan mengenali ciri takjil berbahaya dan mengendalikan asupan gula, tradisi berbuka puasa dapat tetap dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan.

banner 325x300