banner 728x250

Betrand Peto: Tolong Ajari Toleransi, Bukan Minta Kami Ikut Stres

banner 120x600
banner 468x60

Polemik ayah dan Sarwendah membuat Betrand ikut bereaksi

Betrand Peto akhirnya ikut menyinggung polemik yang menyeret sang ayah, Ruben Onsu, terkait perpindahan keyakinan beberapa waktu lalu. Respons ini disampaikan Betrand lewat curahan hatinya di Instagram Story, yang kemudian ramai diperbincangkan.

Dalam unggahan itu, Betrand memakai nada yang terasa lebih “geram” sekaligus “minta dimengerti”. Ia menyampaikan bahwa dirinya dan adik-adiknya sempat menerima pandangan negatif ketika Ruben mengambil keputusan untuk memeluk agama baru.

banner 325x300

Menurut Betrand, pandangan miring itu tidak datang dari ruang publik, melainkan dari lingkungan dekat mereka. Saat itu, Betrand masih tinggal bersama keluarga mantan istrinya, Sarwendah.

Betrand menilai, sikap seperti itu justru tidak sejalan dengan nilai toleransi yang semestinya diajarkan dalam keluarga. Baginya, masalah bukan di perubahan keyakinan semata, melainkan cara orang menyikapinya.

“Jangan minta kami stres”—kalimat yang jadi penegasan

Betrand menulis kalimat tegas yang menohok respons banyak pihak. Ia meminta agar tidak ada yang meminta dia dan adik-adiknya ikut menanggung stres hanya karena Ruben pindah keyakinan.

Ungkapan Betrand kurang lebih terdengar seperti protes: “Kenapa harus kami yang dibuat terbebani?” Ia menilai seharusnya dirinya dan saudara-saudaranya diajarkan cara bersikap, bukan disuruh menelan tekanan emosional.

Betrand juga menekankan soal adik-adiknya. Ia seolah ingin memastikan bahwa persoalan toleransi ini tidak merembet menjadi ketakutan atau kebencian yang berkepanjangan.

Di titik ini, nada Betrand menjadi semakin jelas: ia tidak sedang menyerang keyakinan tertentu, melainkan sedang meminta orang-orang berhenti memperlakukan anak-anak dengan cara yang tidak adil.

Saat tinggal dengan Sarwendah, Betrand mengaku sempat mendapat pemahaman “tidak baik”

Betrand lalu menceritakan pengalamannya. Ia mengatakan pernah mendapatkan pemahaman bahwa keyakinan baru Ruben merupakan sesuatu yang tidak baik.

Pernyataan itu bukan sekadar opini, karena Betrand menyebut itu sebagai pemahaman yang ia terima. Dengan kata lain, Betrand merasa apa yang dia dengar dan pelajari saat berada di lingkungan tersebut membekas di kepala.

Menurut Betrand, ada semacam framing negatif yang kemudian ikut memengaruhi cara ia memandang perubahan yang dilakukan ayahnya. Saat itu, ia masih berada dalam situasi keluarga yang sama dengan Sarwendah.

Ia bahkan menyebut sumber pandangannya datang dari keluarga Sarwendah. Maka, bagi Betrand, wajar jika ia merasa kecewa—karena yang seharusnya menjadi ruang aman justru menyuguhkan perspektif yang menurutnya merugikan.

Namun setelah kembali tinggal dengan Ruben, cara pandangnya berubah

Betrand menyatakan bahwa pandangannya ikut berubah ketika ia kembali tinggal bersama Ruben. Ia menilai, apa yang Ruben sampaikan dan ajarkan tidak sesuai dengan pemahaman negatif yang sempat ia dengar sebelumnya.

Betrand menegaskan bahwa keyakinan ayahnya yang baru ternyata “tidak baik pengertiannya” menurut cerita awal yang ia terima. Tetapi setelah ia tinggal bersama sang ayah, semua menjadi berbanding terbalik.

Ia seolah ingin menyampaikan bahwa ia mengalami langsung suasana dan penjelasan yang berbeda, sehingga ia tidak lagi melihat perubahan keyakinan itu dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Betrand kemudian menggambarkan bahwa apa yang dipahami dari satu lingkungan tidak otomatis benar, dan pengalaman di lingkungan lain membuatnya melihat sisi yang lebih utuh.

Toleransi jadi inti yang ingin Betrand tekankan

Kalau ditarik benang merah, pesan utama Betrand adalah toleransi. Ia meminta agar orang-orang tidak memperlakukan perpindahan keyakinan sebagai sesuatu yang harus dihakimi atau ditakuti.

Betrand juga ingin orang-orang memahami bahwa anak-anak tidak seharusnya diseret ke konflik orang dewasa. Saat orang dewasa sibuk berseberangan, anak-anak malah ikut merasakan dampaknya.

Betrand menunjukkan bahwa ia tidak nyaman ketika dirinya dan adik-adiknya diminta memikul beban emosional.

Dengan begitu, kalimat “jangan minta kami stres” menjadi semacam ringkasan dari semua yang ia rasakan: jangan ubah rumah menjadi tempat ketakutan hanya karena beda keyakinan.

Polemik di medsos berpotensi membuat anak semakin tertekan

Polemik seperti ini, ketika dibahas luas, biasanya memicu reaksi berantai. Ada yang pro, ada yang kontra, lalu sebagian orang ikut menambahkan asumsi sendiri.

Bagi Betrand, kondisi seperti itu berbahaya karena anak-anak jadi ikut disorot. Mereka tidak sedang memilih keputusan, tetapi justru menjadi pihak yang terkena dampak sosial.

Betrand tampak ingin mengunci supaya diskusi tidak melebar menjadi serangan personal. Ia ingin orang-orang menahan diri, apalagi ketika yang dibahas menyangkut keluarga inti dan anak.

Dari sini, terlihat bahwa Betrand ingin memindahkan fokus dari “siapa salah” ke “bagaimana seharusnya bersikap dengan toleransi”.

Pesan Betrand: perbedaan keyakinan jangan jadi bahan penghakiman

Betrand seolah menolak pola pikir yang menganggap perpindahan keyakinan secara otomatis berarti sesuatu yang buruk.

Ia juga menunjukkan bahwa pemahaman negatif yang sempat ia terima tidak otomatis benar, karena kenyataannya berubah setelah ia merasakan sendiri suasana bersama sang ayah.

Dengan narasi itu, Betrand menekankan pentingnya memberi ruang untuk belajar, bukan sekadar memberi vonis.

Ia seperti berkata: kalau memang peduli pada anak, ajarilah mereka cara memahami perbedaan, bukan cara merespon dengan takut atau benci.

Penutup: toleransi untuk anak, bukan tekanan emosional

Pada akhirnya, Betrand mengakhiri polemik ini dengan pesan yang kuat: jangan minta anak-anak stres dan jangan jadikan toleransi sebagai slogan kosong.

Ia menyampaikan pengalaman pribadinya, bagaimana ia sempat menerima pemahaman negatif, lalu menyadari setelah tinggal bersama Ruben, pandangannya berbalik.

Pesan Betrand tidak berhenti pada keluhan, tetapi juga mengarah pada ajakan agar orang dewasa lebih bijak menyikapi perbedaan keyakinan. Baginya, yang paling penting adalah anak-anak tetap merasa aman, tidak terdorong untuk memihak, dan tidak dibebani konflik yang bukan pilihan mereka.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan